Apa itu Internet of Things (IoT)?

Merupakan sesuatu yang baru, teknologi terbaru bagi dunia, dan bahkan bagi Indonesia merupakan hal-hal yang bisa kita masukkan dalam kelompok “teknologi masa depan“. Internet of Things diperkirakan oleh para insinyur terkait (khususnya pakar di sektor Information Technology) akan benar-benar terwujud di negara-negara seluruh dunia secara “merata” pada tahun 2025. Hal ini seiring dengan adanya teknologi jaringan nirkabel internet 5G yang telah dipersiapkan oleh para perusahaan terkait (Saat ini tercatat yang dominan adalah Huawei dan Alcatel-Lucent), untuk diperkenalkan tahun 2018 dan akan dihadirkan ke pengguna tahun 2020. Tentu saja ini bisa lebih cepat atau lebih lambat.

Apa-itu-Internet-of-Things

Internet of Things (IoT)

Internet of Things (IOT) dalam bahasa indonesia secara singkat adalah hal-hal tentang internet. Menurut Wikipedia IoT adalah jaringan objek fisik atau “hal-hal” tertanam yang berhubungan dengan elektronik, software, sensor dan konektivitas, yang berarti melalui sistem komputasi tertanam namun mampu menggabungkan dalam infrastruktur internet yang ada.

Dalam makna yang sederhana, IOT itu adalah hal-hal yang akan diarahkan ke internet, semuanya! Demi kemudahan hidup dan kelancaran bisnis. Hal ini bertujuan supaya seseorang bisa memanfaatkan waktu harian mereka dengan sebaik-baiknya.

Istilah “Internet of Things” pertama kali didokumentasikan oleh seorang visioner Inggris, Kevin Ashton, pada tahun 1999. IOT diharapkan untuk menawarkan konektivitas canggih dari perangkat, sistem, dan jasa, mendukung Machine-to-Machine ( M2M) dan mencakup berbagai protokol, domain, dan aplikasi. Dan satu harapan yang paling tinggi, IoT akan terus diarahkan dalam mewujudkan sistem otomatisasi di hampir semua bidang bersama dengan teknologi canggih yang disebut “Smart Grid”.

Penerapan IoT dapat diklasifikasikan ke dalam lima kategori yang berbeda: alat-alat cerdas, rumah pintar, smart city, lingkungan cerdas, dan perusahaan yang cerdas.

Karena IoT nantinya pasti akan menghasilkan sejumlah besar data dari lokasi yang beragam yang dikumpulkan dengan sangat cepat, sehingga dibutuhkan peningkatan dalam hal meng-indeks, menyimpan dan mengolah data lebih baik dan lebih cepat. Untuk itu, perlu adanya komunikasi data yang canggih yang dapat meng-cover kebutuhan itu, dan semua terjawab dengan konsep “Teknologi 5G“. Sebuah teknologi jaringan nirkabel yang mempunyai efisiensi energi 1000 kali lebih baik dari 4G LTE, latensi yang lebih rendah, dapat mengatasi kepadatan pengguna secara bersamaan, dan tentu saja kecepatan downlink dan uplink yang meningkat.

Perangkat IoT (yang terhubung dengan internet) haruslah dapat digunakan untuk memantau dan mengendalikan sistem mekanik, listrik dan elektronik yang digunakan dalam berbagai jenis bangunan (misalnya, publik dan swasta, industri, lembaga, atau perumahan).

Sistem Otomasi rumah, seperti sistem otomatisasi bangunan lainnya, biasanya digunakan untuk mengontrol pencahayaan, pemanasan, ventilasi, AC, peralatan, sistem komunikasi, hiburan dan perangkat keamanan rumah untuk meningkatkan kemudahan, kenyamanan, efisiensi energi, dan keamanan. Misalnya saja, dengan bantuan internet, pengguna membuka smartphone lalu menjalankan aplikasi, tampil disana semua perangkat rumah, dan dengan mudah pengguna dapat misalnya saja; menghidupkan pompa air, menghidupkan AC, pemanas air, penanak nasi dan lain sebagainya. Sehingga ketika sampai dirumah semua sudah siap, dan waktu istirahat dan menikmati hiburan bisa lebih lama.

IOT dapat membantu dalam integrasi komunikasi, kontrol, dan pengolahan informasi di berbagai sistem transportasi. Penerapan IoT diharapkan akan meluas ke semua aspek sistem transportasi, yaitu kendaraan, infrastruktur, dan kemudahan bagi pengemudi mobil dan kendaraan lainnya. Dalam hal ini, tidak akan ada istilah “tersesat” dengan mobil yang dibekali IoT akan menunjukkan jalan kemana Anda harus pergi (sekarang sudah ada, tetapi tidak menyeluruh), dengan IoT juga Anda akan lebih mudah terhubung dengan sistem keamanan kepolisian yang memandu Anda pada jalan-jalan tertentu yang mungkin macet atau ada perbaikan. Ya, semua akan dibuat menjadi mudah, dan sekali lagi untuk “memanfaatkan waktu hidup Anda sebaik-baiknya”. Interaksi dinamis sistem transportasi meliputi komunikasi antar komponen kendaraan, kontrol lalu lintas cerdas, parkir cerdas, sistem tol elektronik, dan keamanan serta bantuan jalan dengan GPS yang akan terus dimaksimalkan.

Internet of Thing Tahun 2020 – 2025

Menurut Gartner, Inc. sebuah perusahaan yang khusus melakukan penelitian untuk perkembangan teknologi, produk terbaru, dan riset pasar, mengatakan bahwa nanti akan ada hampir 26 miliar perangkat di Internet of Things pada tahun 2020, data ini didapat dari tren yang sudah berlangsung selama beberapa tahun yang lalu. Sementara itu, ABI Research memperkirakan bahwa lebih dari 30 miliar perangkat akan terhubung secara nirkabel ke internet pada tahun 2020. Sesuai survei terbaru dan studi yang dilakukan olehPew Research Internet Project, sebagian besar ahli teknologi 83 persen menyatakan setuju dengan gagasan bahwa Internet Things akan memiliki efek luas dan menguntungkan dalam kehidupan dan bisnis pada tahun 2025.

Pemerintah Inggris, dalam anggaran mereka tahun 2015, mengalokasikan sekitar £ 40.000.000 untuk penelitian ke dalam Internet of Things. Kanselir, Rt Hon George Osborne, mengemukakan bahwa Internet of Things adalah tahap berikutnya dari revolusi teknologi informasi dan komunikasi yang mampu menciptakan kemajuan transportasi di perkotaan, perlengkapan canggih untuk perangkat medis dan tentu saja untuk peralatan rumah tangga.

Sumber: http://ashimima.com/apa-itu-internet-of-things-iot/

Untuk Apa Kemenkominfo Blokir DNS Google?

1051109googledns780x390

JAKARTA, KOMPAS.com — Awal minggu ini beredar kabar bahwa Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mulai melarang ISP Indonesia memakai DNS publik milik Google yang beralamat di 8.8.8.8 dan 8.8.4.4.

Pihak Kemenkominfo lewat juru bicara Ismail Cawidu telah menyuarakan bantahanmengenai dugaan tersebut. Belakangan, muncul pendapat lain dari Dirjen Aplikasi dan Teknologi Informatika (Aptika) Kemenkominfo Bambang Heru Tjahjoho mengenai pemblokiran DNS ini.

<span”>”Kominfo sejak diberlakukannya Permenkominfo No 19-2014 memang tidak memperbolehkan penggunaan DNS lain yang tidak memiliki filtering Database Trust+. Jadi tidak hanya DNS Google saja,” kata Bambang dalam e-mail yang dilayangkan keDailySocial.

Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) tentang Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif yang dimaksud Bambang telah disahkan pada Juli lalu.

Lalu, untuk apa Kemenkominfo melarang penggunaan DNS yang tidak memiliki filtering database Trust+? Menurut Bambang, tujuannya tak lain untuk mencegah pengelabuan DNS yang memungkinkan pengguna mengakses konten negatif internet.

Bambang mencontohkan Biznet sebagai salah satu penggelar jasa akses internet (ISP) yang memblokir DNS di luar miliknya sendiri.

“Pemblokiran DNS ini merupakan suatu upaya untuk mencegah pelanggan mengelabui DNS Biznet dalam mengakses konten yang tidak diperbolehkan oleh Biznet maupun ISP nasional berlisensi lainnya,” kata Bambang.

Dia menambahkan bahwa 90 persen situs dalam daftar hitam database Trust+ mengandung konten pornografi terlarang sebagaimana diterangkan oleh Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Undang-Undang Pornografi.

Selain Biznet, ISP lain yang ditengarai telah melakukan pemblokiran DNS serupa adalah Telkom Speedy.

Sumber: http://tekno.kompas.com/read/2014/10/09/10243447/Untuk.Apa.Kemenkominfo.Blokir.DNS.Google.

Google Luncurkan Fitur Peringatan Dini Bencana Alam

nESLHYDU3A

JAKARTA – Google meluncurkan fitur Google Public Alerts dan Crisis Map untuk Indonesia. Fitur ini dirancang untuk memberikan peringatan darurat yang akurat dan relevan untuk masyarakat saat terjadi bencana alam.

Ke depan, peringatan untuk gempa bumi dan tsunami akan ditampilkan di Google Public Alerts page juga di Google Search, Google Maps dan Google Now.

“Kami bisa menghadirkan Crisis Map dan Public Alerts ini di Indonesia berkat kerja sama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” kata Google dalam keterangan tertulisnya, Selasa (23/9/2014).

Saat terjadi tsunami, bila pengguna melakukan pencarian untuk informasi yang berhubungan dengan tsunami di Google Search atau Maps pada desktop atau perangkat seluler, Google akan menginformasikan peringatan mengenai bencana tersebut.

Pengguna dapat menelusuri peringatan tersebut dengan meng-klik untuk mendapatkan informasi mengenai wilayah-wilayah yang diproyeksikan akan terkena dampak, estimasi waktu datangnya tsunami, tinggi gelombang dan berbagai informasi untuk mengamankan diri.

Pada perangkat Android dan iOS, Google Now akan menampilkan sebuah kartu dengan informasi peringatan dan intruksi evakuasi untuk para pengguna yang berlokasi di wilayah yang terkena dampak.

“Kali ini, untuk pertama kalinya, kami juga telah bekerja sama dengan operator telekomunikasi untuk memperluas jangkauan peringatan penting ini melalui feature phones,” lanjut Google.

Pelanggan Indosat, sambung mereka, dapat mengakses peringatan-peringatan ini dengan mengirimkan pesan singkat *123*77# dari nomer Indosat mereka dan mengikuti petunjuk yang ada.

Sumber: http://techno.okezone.com/read/2014/09/23/55/1043337/google-luncurkan-fitur-peringatan-dini-bencana-alam

Bahasa Bali Kini Tersedia di Google

JAKARTA, KOMPAS.com — Mesin pencari Google menambahkan bahasa Bali pada halaman Google Indonesia, Jumat (15/2/2013). Dengan ini, google.co.id menyediakan pilihan bahasa membaca teks dalam bahasa Indonesia, Jawa, Bali, dan Inggris.

Bahasa Bali merupakan bahasa daerah kedua yang didukung Google setelah bahasa Jawa. Bahasa Bali tersedia di halaman utama google.co.id dan hasil pencariannya. Namun, bahasa Bali tidak akan menjadi salah satu bahasa dalam aplikasi penerjemah Google Translate.

Dalam siaran pers yang diterima KompasTekno, Google menyatakan bahwa penerjemahan ke bahasa Bali dilakukan pada bulan Maret sampai April tahun 2012, yang bekerja sama dengan Yayasan Dwijendra dan BASAbali.org.

Sebanyak 45 mahasiswa beserta ahli bahasa dari Universitas Udayana, Yayasan Dwijenda, serta Balai Bahasa juga membantu proses penerjemahan ini.

“Ini adalah kemajuan luar biasa bagi masyarakat Bali sebagai bagian dari alam semesta bahasa dan kami berharap akan membantu mengembangkan bahasa Bali, khususnya di kalangan anak muda masa kini yang suka menggunakan internet dan teknologi informasi lainnya,” kata Windhu Sancaya, kepala ahli bahasa untuk BASAbali.org.

Diharapkan, hal ini akan menciptakan kesadaran bagi generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa sebagai bagian dari kehidupan di tengah globalisasi.

Head of Country Google Indonesia, Rudy Ramawy, mengatakan, pihaknya siap membantu upaya melestarikan warisan Indonesia yang kaya budaya dan bahasa.

“Kami sangat berterima kasih kepada Basa Bali untuk dedikasi mereka dalam membantu kami menerjemahkan antarmuka pencarian halaman depan Google. Sebagai bahasa daerah yang digunakan oleh 4 juta orang, kami berharap bahasa Bali di Google akan memudahkan lebih banyak lagi pengguna internet menemukan informasi yang mereka butuhkan,” harap Rudy.

Sumber: http://tekno.kompas.com/read/2013/02/15/13083718/Bahasa.Bali.Kini.Tersedia.di.Google

Pengguna Internet 2,4 Miliar, Jumlah Situs Tembus 634 Juta

Jakarta – Perusahaan monitoring internet Royal Pingdom memaparkan hasil pantauannya yang berhubungan dengan gelombang statistik internet global di sepanjang 2012 lalu. Data-data ini cukup menarik untuk dibaca.

Meskipun kita telah seringkali melihat angka-angka seperti ini sebelumnya — misalnya, pembahasan tentang Facebook yang melewati 1 miliar pengguna pada bulan Oktober, serta 200 juta pengguna Twitter pada bulan Desember.

Namun melihat semua data-data raksasa ini berkumpul dalam satu wadah mungkin bisa mengingatkan kita, betapa kecil dan tidak signifikannya kita dalam lautan luas data yang kita kenal sebagai internet, atau belakangan tenar dengan sebutan Big Data.

Highlights dari daftar ini termasuk 2,2 miliar pengguna email di seluruh dunia — 425 juta menggunakan Gmail, menjadikannya sebagai layanan email terbesar saat ini), 634 juta website (dengan penambahan 51 juta situs ke web setiap tahunnya) dan 246 juta pendaftaran nama domain pada tahun 2012.

Ada 100 juta nama domain dotcom (sejak pertama terdaftar pada tahun 1985), 2,4 miliar pengguna internet di seluruh dunia, dan 1,2 triliun pencarian Google pada tahun 2012.

Di segmen media sosial, pada tahun 2012 lalu ada 2,7 miliar ‘like’ di Facebook setiap harinya, 175 juta tweet yang dikirim di Twitter setiap hari, sedangkan tombol +1 Google telah digunakan sebanyak 5 miliar kali per hari.

Terakhir, ada 1,3 miliar smartphone yang digunakan di seluruh dunia pada akhir 2012, 4 miliar jam video yang ditonton di YouTube setiap bulan, dan 7 petabyte foto yang diposting ke Facebook setiap bulan.

Demikian data-data hasil pantauan Royal Pingdom seperti dikutip detikINET dari Mashable, Senin (21/1/2013). Kira-kira di akhir 2013 nanti, angka-angka ini akan bertambah jadi berapa ya?

sumber : http://inet.detik.com/read/2013/01/21/081040/2147888/398/pengguna-internet-24-miliar-jumlah-situs-tembus-634-juta?i991102105